Kaidah – Kaidah Seputar Riba

Sebagian besar masyarakat belum tahu arti dari kata RIBA, termasuk jenis2 dan penerapannya.

Mari perdalam khazanah seluk beluk RIBA, ajakan ini terutama untuk diri saya sendiri.

KAIDAH – KAIDAH SEPUTAR RIBA

KAIDAH PERTAMA
Mengambil manfaat dari utang adalah riba

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Semua utang yang menghasilkan manfaat statusnya riba”

Keterangan:

Pernyataan ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib secara marfu’ dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun sanadnya dhaif (Musnad al-Harits, 437). Kemudian diriwayatkan al-Baihaqi dengan sanadnya dalam al-Kubro dari sahabat Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu secara mauquf.

Selanjutnya al-Baihaqi mengatakan,

وروينا عن ابن مسعود ، وابن عباس ، وعبد الله بن سلام ، وغيرهم في معناه ، وروي عن عمر ، وأبي بن كعب ، رضي الله عنهما

Kami juga mendapat riwayat yang semakna (dengan pernyataan Fadhalah) dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abdullah bin Sallam, dan yang lainnya. Juga diriwayatkan dari Umar dan Ubai bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhum. (as-Sunan as-Sughra, Bab al-Qardh).

Apapun itu, ulama sepakat dengan prinsip ini, bahwa semua utang yang menghasilkan manfaat apapun maka statusnya riba.

Ibnu Qudamah mengatakan,

كل قرض شرط به أن يزيده فهو حرام بغير خلاف

Semua utang yang mempersyaratkan harus dilebihkan (pelunasannya) hukumnya haram tanpa ada perbedaan (sepakat ulama). (al-Mughni, 4/390).

Penerapan Kaidah

[1] Bunga bank atas pengajuan kredit

Semua pengajuan kredit di bank, dengan ketentuan harus membayar bunga sekian persen perbulan, statusnya riba dengan sepakat ulama. Bunga atas pinjaman ini adalah manfaat yang didapatkan pihak bank karena memberikan dana utangan ke nasabah.

Kita memang tidak bisa mendapatkan keterangan tentang bunga bank di buku-buku klasik. Karena ketika itu belum ada bank. Tapi bisa kita dapatkan dari pernyataan ulama kontemporer yang menjumpai bank. Salah satu kesepakatan mereka,

“Muktamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo, tahun 1965, hingga muktamar tertinggi di Mekah, yang dihadiri lebih dari 300 ulama besar, menetapkan bahwa semua bunga bank adalah haram.” (Ahkam al-Mal al-Haram, hlm. 168).

[2] Memanfaatkan bunga untuk menutup biaya administrasi bank

Posisi nasabah kreditor, dia akan mendapatkan bunga dari bank. Sementara itu, nasabah juga berkewajiban membayar biaya administrasi karena telah memanfaatkan jasa yang diberikan bank. Karena semua utang yang menghasilkan manfaat adalah riba.

“Pajak & biaya administrasi adalah beban nasabah. Jika diambilkan dari riba, berarti ada manfaat riba yang kembali kepadanya.”

(Ahkam al-Mal al-Haram, hlm. 332)

[3] Pemanfaatan barang gadai

Barang gadai diserahkan sebagai jaminan kepercayaan dari penerima utang. Sehingga statusnya tetap milik penerima utang. Ketika ini dimanfaatkan oleh pemberi utang, bararti utang yang dia berikan menghasilkan manfaat.

[4] Fasilitas gratis karena utang

Jika orang yang diberi utang memberikan fasilitas gratis kepada orang yang menghutangi, fasilitas ini statusnya riba, tidak boleh diterima. Karena semua utang yang menghasilkan manfaat adalah riba

Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan kepada Abu Burdah ketika beliau kunjung ke rumahnya Abdullah,

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ فَلا تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3603)

[5] Hadiah sebelum utang lunas

Hadiah yang diberikan oleh orang yang berutang, karena dia mendapat pinjaman, termasuk bagian dari mendapat manfaat karena utang. Karena itu, para sahabat memfatwakan 2 plihan:

a. Ditolak

b. Dihitung sebagai bagian dari pelunasan

Ada orang yang bertanya kepada Ibnu Umar, “Saya menghutangi seseorang yang sebelumnya tidak kenal. Lalu dia memberi hadiah yang banyak kepadaku. Apa yang harus aku lakukan?”

Jawab Ibnu Umar,

رُدَّ إلَيْهِ هَدِيَّتَهُ، أَوْ احْسبهَا لَهُ

“Kembalikan hadiah itu kepadanya atau hitung sebagai pelunasan.” (HR. Said bin Manshur dalam Sunannya – al-Fatawa al-Kubro, 6/160)

KAIDAH KEDUA

الزِّيَادَةُ فِي الدَّيْنِ مُقَابِلَ الأَجَلِ رِبًا

“Tambahan utang sebagai ganti dari tempo pembayaran adalah riba.”

Keterangan:

Al-Qurthubi menyatakan, kaum muslimin sepakat, tambahan yang disepakati adalah riba,

أجمع المسلمون نقلا عن نبيهم صلى الله عليه وسلم أن اشتراط الزيادة في السلف ربا ولو كان قبضة من علف

Kaum muslimin sepakat, bersumber dari keterangan nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mempersyaratkan adanya tambahan dalam utang adalah riba. Meskipun hanya segenggam pakan ternak. (Tafsir al-Qurthubi, 3/241)

Karena itu, islam menyadarkan bahwa memberi utang hakekatnya adalah sedekah. Sehingga resiko inflasi yang dia alami tidak sia-sia, akan dihitung sebagai nilai pahala. Dan yang namanya amal sedekah, semakin beresiko semakin berpahala.

Dari Ibn Mas’ud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ قَرْضٍ صَدَقَةٌ

“Setiap menghutangi orang lain adalah sedekah.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam as-Shaghir 402, dan dishahihkan al-Albani)

Dengan memahami ini, tidak akan ada istilah menghitung nilai waktu uang ketika seseorang memberikan utang kepada orang lain. Prinsip dia membantu dan beramal, bukan mencari keuntungan.

Penerapan kaidah

[1] Sistem bunga berbunga

Compound interest (bunga majemuk) menjadi salah satu tradisi sebagian perbankan. Posisi kreditor (pemberi utang) tidak akan pernah terancam inflasi. Uangnya akan terus berkembang, sesuai usia utang. Ketika ini tidak dibatasi, nilai bunga bisa jauh lebih besar dibandingkan nilai pokok utangnya. Kita tidak perlu berpanjang lebar di sini, karena jelas ini riba.

KAIDAH KETIGA

الرِّبَا لَا يَـجُوزُ قَلِيلُهُ وَلَا كَثِيرُهُ

“Riba tidak dibolehkan, sedikit maupun banyak.”

Keterangan:

Kaidah ini disampaikan Ibnu Abdil Bar dalam kitabnya at-Tamhid Syarh Muwatha’ (14/213).

Ibnu Qudamah mengatakan,

ما جرى الربا في كثيره جرى في قليله

Semua yang berlaku riba dalam jumlah besar, juga berlaku riba dalam jumlah kecil. (al-Mughni, 4/139).

Riba dan gharar (ketidak-jelasan), keduanya sama-sama dilarang, namun yang satu, yaitu gharar diizinkan ketika nilainya kecil. Sementara riba, sekecil apapun dilarang. Sehingga tidak ada riba bisa menjadi legal.

Ibnu Abdil Bar membuat kesimpulan,

الربا لا يجوز قليله ولا كثيره وليس كالغرر الذي يجوز قليله ولا يجوز كثيره

Riba tidak dibolehkan, sedikit maupun banyak. Tidak seperti gharar, yang itu dibolehkan jika sedikit dan tidak boleh jika banyak. (at-Tamhid Syarh Muwatha’, 14/213)

Syaikhul Islam mengatakan,

ومفسدة الغرر أقل من الربا، فلذلك رخص فيما تدعو الحاجة إليه منه، فإن تحريمه أشد ضرراً من ضرر كونه غرراً

Mafsadah gharar lebih ringan dari pada riba. Karena itu dibolehkan untuk gharar karena menjadi kebutuhan umum, yang itu tidak ada dalam riba. Karena riba lebih berbahaya dari pada keberadaan gharar. (al-Qawaid an-Nuraniyah, 140)

Penerapan kaidah:

[1] Suku bunga kecil, seperti KUR, hanya 9% setahun, berarti 0,75%/bulan

Sekalipun kecil, tidak bisa menjadi alasan bahwa itu dibenarkan. Karena riba sekecil apapun dilarang.

[2] Koperasi simpan pinjam, sekalipun dengan bunga sangat ringan, tetap dilarang. Karena riba sekecil apapun hukumnya haram.

SUMBER:
Buku Ustadz Ammi Nur Baits: “Ada Apa dengan Riba?”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *